Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Advertisements

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Kaerimichi

Kau itu bodoh
Pergi dengan semangat yang menggebu-gebu
Tapi lupa jalan pulang
Perlukah aku menyusulmu lagi?

 

Jangan malu karena aku menghajarmu di tepi sungai
Itu salahmu sendiri lupa waktu saat memancing
Senja hampir lenyap
Kau mengajakku menonton akhir hari lagi

Lalu dengan senyum merekah kau selalu menceritakan tentang masa depan yang indah
Kau bahkan tak pernah mempertimbangkan kedaan kita sekarang
Seekor ayam yang bermimpi bisa terbang lebih tinggi dari elang
Kau tak pernah melihat ke belakang

 

Kau itu bodoh
Pergi dengan semangat yang menggebu-gebu
Tapi lupa jalan pulang
Perlukah aku menyusulmu lagi?

Padahal aku sudah membuat makan malam
Tapi sepertinya kau sengaja pulang terlambat dengan dua ekor ikan
Kau mengajakku keluar lagi
Sampai cahaya oranye di kaki barat berubah menjadi hamparan bintang

 

Memikirkanmu dengan mimpi-mimpi besarmu itu,
Membuat dadaku sakit
Rasa panas menjalari wajahku, mataku menjadi agak basah
Biasanya kau selalu memelukku dan berkata ‘kau tak berhak menahannya, selama aku di sini’

Racun apa yang kau tuang dalam semangkuk madu milikku?
Kenapa kau begitu bisa membuatku sakit dalam kebahagiaan yang semu
Padahal kau tahu tak punya kesempatan
Tapi harapan dan mimpi-mimpimu membuatku terbang

 

Kau itu bodoh
Pergi dengan semangat yang menggebu-gebu
Tapi lupa jalan pulang
Perlukah aku menyusulmu lagi?

Aku tahu kau takkan menangis hanya karena tersesat
Tapi apa kau berpikir bagaimana isakku menunggumu?
Sekarang, apa perlu kunyalakan seribu lilin sebagai tanda bahwa kau masih punya tempat untuk pulang
Agar kau mengikuti dan mengakuinya sebagai jalan pulang

 

Biar saja malam tak berganti jadi siang
Asal jangan kau biarkan senja dan malam tak lagi kupandang
Kau selalu tersesat setiap hari
Aku harus tetap bersamamu agar kau tak kehilangan jalan pulang
Agar kita bisa menapakinya bersama lagi

 

Kau itu bodoh
Pergi dengan semangat yang menggebu-gebu
Tapi lupa jalan pulang
Perlukah aku menyusulmu lagi?

Senja tadi tak berani kutatap
Bintang-bintang tadi tak sanggup kupandang
Itu semua karena kau tak segera menemukan jalan pulang
Dan malah menungguku di tempat yang tak pernah dijamah sebelumnya

Lalu berkata ‘kau tak berhak menyusulku dalam waktu dekat, karena aku tetap tersenyum padamu dari sini’
‘Karena aku takkan bisa menemukan jalan pulang tanpamu’

Puisi

Pelita di Gurun Sengsara

Ku ikuti jejak-jejak tetua
Ku lewati luasnya dunia
Ku lalui ujian berada
Ku jalani hidup derita
Tapi aku
Aku tak menemukan mu, wahai pelita!

Ku ikuti angin petuah pengembara
Ku arungi lautan samudera
Ku hadapi ganasnya neraka
Ku jelajahi birunya angkasa
Tapi kau,
Engkau tak pernah ada

Di terpa angin berarak
Di terjang badai berombak
Di timpa musibah bergerak
Di sini, kau tak ada lagi

Ku datangi kerajaan-kerajaan berjaya
Ku kunjungi taman-taman surga dunia
Ku hampiri benang-benang sutera
Ku jamah dunia bertahta

Di tempat nan mulia
Kau tak ada
Di gurun yang penuh sengsara
Kau, ada di sana
Sebagai pelita